Ruang Naera.

By De'Ayu

Daun Jatuh Di Halaman Rumah — Maret 13, 2017
Cerita Dibalik Hujan #2 — Februari 9, 2017

Cerita Dibalik Hujan #2

Turun-lah hujan, sampailah aku di depan resto alam indah. Dua hari yang lalu dia mengajakku meluangkan waktu untuk sekedar menikmati secangkir kopi. Aku langsung saja setuju dengan ajakan pertemuan ini, “Alam Indah” dia memastikan tempat kita akan berjumpa. Bulan Februari ini tepat dua tahun aku dan dia sepakat untuk berpisah. Jika kembali mengingat perpisah itu rasanya sungguh hal yang kekanak-kanakan. Aku dan dia berpisah sebab tak lagi saling percaya. Ada alasan mengapa kita berdua tak lagi saling percaya yaitu, nyamannya pekerjaan masing-masing. Hubungan kita memang sudah terbilang sangat lama, awalnya kita memang saling memahami situasi pekerjaan yang ada, kita saling memberi motivasi, saling menguatkan dan saling berdiskusi pekerjaan yang berbeda.

Baca lebih lanjut

LELA — Oktober 8, 2016

LELA

Aku mulai nyaman dengan pekerjaan ini. Sudah tiga tahun ini aku menjalankan pekerjaan yang hanya bermodal jasa dan penampilan. Beberapa pekerjaan sebelumnya kurang aku sukai, otak dan energi tubuh terkuras habis. Maklum, sebelumnya aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Harus membersihkan rumah majikan yang luasnya hampir sama dengan gedung senayan. Lalu, mengurus dua anak majikan yang sangat menyebalkan. Dua bulan aku bekerja dengan majikan yang super pelitnya. Tidak ada jatah makan sebelum pekerjaan rumah selesai dan tidak ada kesempatan tidur siang sebelum kedua anak majikan tertidur lelap. Selama dua bulan bekerja aku hanya mendapatkan setengah gaji saja, beberapa alasan telah memotong gajiku.

Baca lebih lanjut

LIDAH — Agustus 31, 2016

LIDAH

“Itu semacam lidah. Entah, lidah manusia atau lidah buaya. Terasa tajam, melebihin tajamnya pisau.”
Gendis menatap murung kearah dua manusia yang sedang beradu kata. Semua sudah berupa paragraf tanpa tanda koma, tanpa tanda titik. Tak ada kemenangan dan tak ada kekalahan. Paragraf itu lantang berujar pada bait kemenangan masing-masing.

Baca lebih lanjut

Penyuka Bunga-Bunga — Agustus 28, 2016

Penyuka Bunga-Bunga

Suatu hari tanpa sepengetahuan Bapak aku menemui Bang Damar. Ya. Sudah lebih dari enam tahun Bang Damar memilih pergi dari rumah. Aku tak tahu persis alasan apa yang membuat Bang Damar memilih pergi dari rumah. Jelas Bapak marah sekali dengan keputusan Bang Damar, sedangkan Ibu tak bisa banyak pembelaan untuk anak pertamanya. Aku empat bersaudara Bang Damar adalah anak pertama, satu-satunya anak laki-laki di keluarga kami. Sejak kecil aku sangat dekat dengar Bang Damar. Beda dengan kedua Mbakku, mereka sering bermusuhan dengan Bang Damar. Aku merupakan anak paling bontot di keluarga ini. Kedekatanku kepada Bang Damar membuat aku merasa kehilangan, tak ada lagi teman terbaik yang mau aku ajak bermain dan membantuku mengerjakan tugas sekolah. Rasa rindu masakan Bang Damar membuat aku tak nafsu makan. Aku memang paling suka masakan Bang Damar, ia pandai sekali memasak. Kata ibu, memang sejak kecil Bang Damar paling rajin membantu ibu dalam hal dapur dan bersih-bersih rumah. Beda dengan kedua Mbakku yang memilih lebih suka bersolek dan pergi membeli baju-baju mahal.

Baca lebih lanjut

Menebalnya Sakit Yang Pernah Kau Ciptakan — Agustus 25, 2016

Menebalnya Sakit Yang Pernah Kau Ciptakan

Mempercayaimu! Sama saja aku membunuh hati yang telah aku usahakan untuk mencintaimu. Terbiasa tanpamu. Terbiasa tidak mempercayaimu. Semua aku lakukan untuk membunuh sakit yang terlanjur mendaging di relung hatiku. Mungkin, saat ini sakit itu sudah menyerupai gumbalan tumor ganas yang bisa saja menghentikan deyutan jantungku. Menghambat seluruh udara dari lubang hidungku. Aku sakit dengan hal itu.
Butuh tenaga ekstra untuk mempecayaimu, benar-benar aku membutuhkan tenaga yang sangat ekstra untuk membuatku mempercayaimmu sepenuh hatiku. Apa pernah kau tanyakan bagaimana cara membuatku mempercayaimu? Tidak pernah. Kau anggap aku wanita super kuat yang sudah tahan banting dengan segala kesakitan yang kau ukir di relung hatiku. Aku memang sengaja diam untuk memperhatikanmu. Melatihmu agar terbiasa dengan caraku. Dan, kau anggap itu aturan yang membuatmu jenuh. Saat aku tanyakan, apa yang seharusnya aku lakukan untukmu? Kau diam. Serba salah yang aku rasakan. Bagaimana bisa aku mempercayaimu, adanya aku pun tak kau latih untuk memandang sisih indahmu. Yang terdapat hanya sisi burukmu. Semakin menggerogotiku, menumpuk sakit yang aku nikmati tanpa kau tahu itu sungguh menyiksaku. Sangat menyiksa!

Baca lebih lanjut

Hujan Legetan — Juli 20, 2016

Hujan Legetan

“ Aku dan beberapa teman semalam tidur di masjid, mas. Baru tahu kabar longsor jam tiga pagi.” Salah satu pernyataan penduduk yang menjadi saksi kejadian musibah tanah longsor. Baru tiga hari ini aku menjadi wartawan di salah satu kantor redaksi Semarang,  awal pertama aku ditugaskan untuk meliput berita bencana di dukuh Legetan,  desa Pekasiran, kecamatan Batur, Banjarnegara.

Baca lebih lanjut

Tawang — Juli 14, 2016

Tawang

Belajar dari sebuah kedamaian air di danau Tawang. Malam ini aku menghabiskan waktu dengan tubuh penuh penyesalan, penuh kekecewaan. Bagiku malam ini malam kedua yang teramat menyakitkan. Seorang wanita yang tak berani untuk memaksa sebuah belas kasih, hanya mampu menahan pasrah. Setidaknya aku tahu bagaimana sakitnya mengharap sesuatu yang tak pernah menjadi nyata. Menangis sekencangnya, mendayu bersama laju kereta api yang berhasil menyamarkan tangisan. Aku puas mampu menangis. Yang pasti malam ini puas dengan sebuah tangis, puas dengan kekecewaan, puas dengan kesakitan. Untung aku bukan seorang wanita pemberani yang mampu menuntutmu lebih. Hanya seoarang wanita yang mampu diam dengan ketidak perdulianmu. Ya, yang pasti sekuat apapun memintamu untuk  memahami perasaan ini, aku hanya mendapatkan sebuah angin kekecewaan yang mampu menerbangkanku pada sebuah kediaman. Tepatnya pada kebisuan yang teramat menyakitkan.

Baca lebih lanjut

SANG MALAM —

SANG MALAM

“ Datanglah, temui aku sampai sang malam telah menjelma pagi. Dan kau boleh pergi, lalu tak mencintaiku lagi setelah ini.”
Aku duduk menatap hambaran langit penuh parade bintang. Malam ini aku kembali mengenang sosok lelaki yang kerap datang bersama sambutan sang malam. “ Apa kau masih ingat, kau kerap datang dan mengajakku menikmati gemercik angin dengan parade bintang menemani sang ratu rembulan? Semoga kau masih ingat hal itu? Karena saat ini aku merindukan hal itu terulang kembali.”

Baca lebih lanjut

TIANG DAN TALI — Juli 1, 2016

TIANG DAN TALI

Lelaki itu terus saja mencari cara untuk berjumpa denganku. Entahlah, apa ia pernah berpikir kalau aku sudah sangat bosan dengannya. Apa tidak ada manusia lain? Kenapa harus aku?. Dari arah pintu masuk diskotik aku terus menatapnya, sampai pada akhirnya ia tepat dihadapanku. Kebulan asap mengawali senyumnya. Aku tahu ini senyum palsu untukku. Kali ini aku akan mendengarkan ia dengan segala macam omong kosongnya. Sudah menyerupai moster penuh belatung, aku banyangkan wajah tuanya seperti itu. Namun, aku selalu heran mengapa semua orang disini menyebutnya manusia terbaik. Ya, karena yang berbicara adalah mereka si pengemis-pengemis yang telah menyerahkan hidupnya untuk sebuah rupiah kepadanya.

Baca lebih lanjut